selamat datang

selamat datang di Laksana's Blog of Nursing..
maaf masih jauh dari sempurna,,
Tampilkan postingan dengan label ASMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASMA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2011

ASKEP Asma Bronchial


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ASMA BRONCHIAL

Definisi
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan.
Patofisiologi
§  Astma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
§  Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
§  Respon astma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan  hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
§  Astma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin.
§  Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan
§  Anak yang mengalami astma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 terthan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).
Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )
Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper
IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas
Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit
Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin )
Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )
Hiperresponsif jalan napas
Astma
  • Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa  dan meningkatnya produksi sekret.
  • Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
  • Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
  • Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
  • Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
  • Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan  proses penyakit dan pengobatan

Komplikasi
  • Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
  • Chronik persistent bronchitis
  • Bronchiolitis
  • Pneumonia
  • Emphysema.

Etiologi
  • Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
  • Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma..Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

Manifestasi klinis
  • Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
  • Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
  • Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
  • Tachypnea, orthopnea.
  • Diaphoresis
  • Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
  • Fatigue.
  • Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
  • Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
  • Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
  • Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
  • Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
  • X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”

Pemeriksaan Diagnostik
  • Riwayat   penyakit dan pemeriksaan fisik
  • Foto rontgen
  • Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
  • Pemeriksaan alergi
  • Pulse oximetri
  • Analisa gas darah.

Penatalaksanaan serangan asma akut :
  • Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral. 
§  Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
§  Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
a.            Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
Þ          Efedrin             : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
Þ          Salbutamol      : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Þ          Terbutalin        : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.

b.            Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
Þ          Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Þ          Teofilin     : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
 Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.

c.             Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison     : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).

ASUHAN KEPERAWATAN

1        PENGKAJIAN

1.1        Identitas

Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan  berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.

1.2        Keluhan utama

Batuk-batuk dan sesak napas.

1.3        Riwayat penyakit sekarang

Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.

1.4        Riwayat penyakit terdahulu

Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.

1.5        Riwayat penyakit keluarga

Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik  dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain.

1.6        Riwayat kesehatan lingkungan

Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.

1.7        Riwayat tumbuh kembang

1.7.1        Tahap pertumbuhan

Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun  yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.

1.7.2        Tahap perkembangan.

§    Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
§    Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
§    Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
§    Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
§    Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
§    Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
§    Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
§    Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
§    Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
§    Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.

1.8        Riwayat imunisasi

Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.

1.9        Riwayat nutrisi

Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi 
Klasifikasinya sebagai berikut :
Ø  Gizi buruk kurang dari 60%
Ø  Gizi kurang 60 % - <80 %
Ø  Gizi baik 80 % - 110 %
Ø  Obesitas lebih dari 120 %

1.10    Dampak Hospitalisasi

Sumber stressor :
1.            Perpisahan
a.       Protes : pergi, menendang, menangis
b.      Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
c.       Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi
2.            Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.
3.            Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
4.            Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.

1.11    Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem

1.11.1    Sistem Pernapasan / Respirasi

Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar  wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal.

1.11.2    Sistem Cardiovaskuler

Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.

1.11.3    Sistem Persyarafan / neurologi

Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng  → apatis → sopor → coma.

1.11.4    Sistem perkemihan

Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas.

1.11.5    Sistem Pencernaan / Gastrointestinal

Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering.

1.11.6    Sistem integumen

Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.

2        Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Kriteria Hasil, Rencana Intervensi

1.            Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret.
Tujuan             :     Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan jalan nafas  yang efektif dan pola nafas dalam batas normal.
Kriteria hasil    :     PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas, batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing tidak ada
Intervensi :
·         Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ).
·         Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam.
·         Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry.
·         Kaji kenyamanan posisi tidur anak.
·         Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan  dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia.
·         Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral
·         Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ).
·         Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan.
·         Berikan terapi bermai sesuai usia.
2.            Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas.
Tujuan             :     Anak tidak tampak fatigue.
Kriteria            :     Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi.
Intervensi        :
·         Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea.
·         Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup.
·         Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak.
·         Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi.
·         Berikan oksigen humidifikasi sesuai program.
·         Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi.
·         Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial.
3.            Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan.
Tujuan       :     Kecemasan menurun
Kriteria      :     Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua  merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak.
·         Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi.
·         Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support.
·         Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal
·         Berikan terapi bermain sesuai  dengan kondisi.
·         Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak.
·         Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
4.            Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan.
Goal          :     Status hidrasi adekuat
Kriteria      :     Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan sesuai    dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per jam.
·         Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin, ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
·         Monitor elektrolit
·         Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
·         Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran ( overload )
·         Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
·         Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5.            Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
Goal          :     Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
Kriteria      :     Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan     aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan psikososial pada anak.
·         Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
·         Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
·         Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
·         Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
·         Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6.            Kurangnya pengetahuan  berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
Goal          :     Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan           pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.
Kriteria      :     Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada anak sesuai program.
·         Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi.
·         Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
·         Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
·         Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan  darah.
·         Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
·         Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
·         Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.

Perencanaan Pemulangan
Ø  Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
Ø  Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
Ø  Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
Ø  Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
Ø  Ajarkan penggunaan nebulizer.
Ø  Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
Ø  Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
Ø  Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
Ø  Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya
Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika Jakarta.
Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV Sagung Seto Jakarta.

Jumat, 11 November 2011

ASKEP ASMA BRONCHIALE


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KASUS ASMA BRONCHIALE



Disusun Oleh :
BUDI LAKSANA
08.321.095



S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2011







1.      Konsep Dasar

I.            Pengertian
Asma bronchiale adalah keadaan respon abnormal saluran nafas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan saluran nafas (IPD jilid II, 2001).
Asma bronchiale dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
1.      Esfrinsik / alergi
Asma yang disebabkan oleh bahan alergen seperti spora, jamur, debu, bulu binatang dan yang lebih jarang adalah susu atau coklat. Dan asma yang umumnya dimulai sejak kanak-kanak dengan anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit seperti hayfever, dermatitis.
2.      Asma infrinsik
Ditandai dengan faktor yang tidak jelas. Asma ini sering muncul setelah umur 40 tahun. Serangan ini makin lama makin sering sehingga akan terjadi brontitis kronik.
3.      Asma campuran
Kombinasi ekstrinsik dan instrinsik

II.         Etiologi
Penyebab dari asma bronchiale belum diketahui secara pasti namun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa dasar gejala asma adalah inflamasi dan respon saluran nafas yang berlebihan. Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran nafas. Inflamasi ditandai dengan adanya kalor (panas karena vasodilatasi) dan rubor (kemerahan karena vasodilatasi), tumor lekssutasi plasma dan edema), dolor (rasa sakit karena rangsangan sensoris) dan fuction laesa (fungsi yang terganggu) ternyata ke enam syaraf tersebut dijumpai pada asma, sifat saluran nafas pasien asma sangat peka terhadap berbagai rangsangan iritan (debu), zat kimia (histamin) dan feses (kegiatan jasmani).


III.      Anatomi
Respirasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O2 kedalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Saluran pernafasan di bagi menjadi 2 zona yaitu :
1.      Zona konduksi
Terdiri dari hidung, faring, trakea, bronkus dan bronkus terminalis.
2.      Zona respiratorik
Terdiri dari bronkioli respiratorik, duktus alveoli

IV.      Patofisiologis
Destruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, sumbat mukus edema dan inflamasi dinding bronkus. Destruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis saluran nafas menyempit. Gejala mengi menandakan adanya penyempitan di saluran nafas besar, sedang pada saluran nafas yang kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi. Penyempitan saluran nafas ternyata tidak merata di seluruh bagian paru. Ada daerah yang kurang mendapat ventilasi, sehingga darah kapiler yang melalui daerah tersebut mengalami hipoksemia. Untuk mengatasi kekurangan O2 tubuh melakukan hiperventilasi, agar kebutuhan O2 terpenuhi. Tetapi akibat pengeluaran CO2 sehingga PaCO menurun dan menimbulkan alkalosis respiratorik pada serangan asma yang lebih berat lagi banyak saluran nafas tertutup oleh mukus sehingga tidak memungkinkan lagi terjadi pertukaran gas. Hal ini menyebabkan hipokremia dan kerja otot-otot pernafasan bertambah berat serta terjadi peningkatan produksi CO2, peningkatan produksi CO2 dapat mengakibatkan gagal nafas.

V.         Gejala Klinis
Gejala Klinis asma adalah batuk, mengi dan sesak nafas. Pada awal serangan sering gejala tidak jelas seperti rasa berat di dada dan pada asma alergik bisa disertai pilek atau bersin. Meskipun pada mulanya batuk tanpa disertai sekret tetapi pada perkembangan selanjutnya pasien akan mengeluarkan Sekret, pada asma alergi, sering hubungan antara pemajanan alergen dengan gejala asma tidak jelas. Terlebih lagi pasien asma alergi pencetus non alergik seperti asap rokok, asap yang merangsang infeksi saluran nafas ataupun perubahan cuaca

VI.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dapat dibagi atas :
1.      Pemeriksaan sputum
Pada pemeriksaan sputum ditemukan
-          Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
-          Netrofil dengan eosinofil yang terdapat pada sputum umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang-kadang terdapat mukus plug.
2.      Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan terjadi peningkatan eosinofil sedangkan leokosit dapat meningkatkan atau normal, walaupun terdapat komplikasi.
-          Analisis gas darah pada umumnya normal, akan tetapi dapat pula terjadi hipoksomia, asidosis.
-          Kadang-kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan IDH.
3.      Pemeriksaan radiologi
Kelainan yang didapat adalah :
-          Bila disertai dengan bronchitis maka bercak-bercak dihilus akan bertambah.
-          Bila terjadi emfirema (COPD) maka gambaran radiolosan akan semakin bertambah.
-          Bila komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrasi pada paru-paru.

4.      Pemeriksaan faal paru
Berdasarkan pemeriksaan faal paru maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
-          Setiap pasien menunjukkan peningkatan resistensi jalan pernafasan dan penurunan expiratory flow rate (kecepatan aliran ekspirasi)
-          Peningkatan fluktuasi dari tekanan intrapleura.
5.      Scaning paru
Dengan scaning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma ternyata tidak menyeluruh, pada paru-paru sedangkan pada pemeriksaan xenon 133 melalui pembuluh darah dapat dilihat redistribusi radioaktif tidak menyeluruh pada kedua paru.

VII.   Penatalaksanaan
Pada penderita asma bronchiale dapat ditinjau dari berbagai pendekatan seperti :
a.       Mencegah ikatan alergen IGE
Menghindari alergen, tampaknya sederhana tetapi sukar untuk dilakukan.
b.      Mencegah pelepasan mediator
Premedikasi dengan natrium kromolin dapat mencegah spasme bronkus yang dicetuskan oleh alergen natrium kromolin mekanisme konjungtiva diduga mencegah penglepasan mediator dari mastosif obat tersebut tidak adapat mengatasi spasme bronkus yang telah terjadi, oleh karena itu hanya dipakai sebagai obat profilaktif pada terapi pemeliharaan.
c.       Melebarkan saluran nafas dengan bronkodilator
Kortikosteroid tidak termasuk obat golongan bronkodilator tetapi secara tidak langsung, dapat melebarkan saluran nafas.

d.      Mengurangi respons dengan jalan meredam inflamasi saluran nafas.
Implikasi terapi proses inflamasi diatas adalah meredam inflamasi yang ada baik dengan natrium kromolin, atau secara lebih paten dengan kartikosteroid baik secara oral, parenteral atau inhalasi

VIII.Komplikasi
-          Pneumotoraks
-          Pneumodiastinum dan erofirema subkutis
-          Atelektasis
-          Gagal nafas
-          Bronkitis
-          Fraktur iga

2.      Asuhan Keperawatan

I.             Pengumpulan data
a.       Identitas klien
b.      Keluhan utama
Biasanya pada klien dengan asma bronchiale mengeluh sesak nafas
c.       Riwayat kesehatan
-          Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah diderita sebelumnya seperti sesak nafas batuk dan disertai dahak dan alergi.
-          Riwayat kesehatan sekarang
Ditanyakan   :  -    Kapan terjadinya
                         -    Sering / kadang-kadang
                         -    Batuk produktif atau non produktif
                         -    Sputum dan warna
-          Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya merupakan faktor keturunan dari salah satu anggota keluarga.

II.         Pola Fungsi kesehatan
1.      Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Meliputi persepsi klien terhadap kesehatan dan penyakitnya.
Apa yang dilakukan klien bila merasa sakit
2.      Pola nutrisi dan metabolisme
Meliputi makanan klien dalam sehari
3.      Pola aktivitas dan latihan
Gangguan aktivitas / kebutuhan istirahat, akibat sesak nafas dan batuk sehingga dapat menghambat aktivitas sehari-hari termasuk pekerjaan harus dibatasi.
4.      Pola eliminasi
Pada pola ini klien tidak mengalami gangguan
5.      Pola tidur dan istirahat
Pada pasien ini mengalami gangguan pada pola tidur yang diakibatkan sesak nafas dan batunya
6.      Pola sensori dan kognitif
Bagaiman Klien dalam menghadapi penyakitnya, apakah dapat mengerti cara penanggulangan pertama jika kambuh penyakitnya
7.      Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi klien tentang penyakitnya dan bagaiman konsep diri dalam menghadapi penyakit yang dideritanya
8.      Pola hubungan dan peran
Dalam hal ini hubungan dan peran klien terganggu karena klien mungkin merasa bahwa dirinya orang yang sakit-sakitan
9.      Pola reproduksi dan sexual
Mengalami gangguan akibat penurunan libido yang diakibatkan sesak nafas yang ia alami.
10.  Pola penanggulangan stress
Bagaimana klien menghadapi masalah yang membebaninya sekarang, cara penanggulangannya.

11.  Pola tata nilai dan kepercayaan
Dalam pola ini kadang ada yang mempercayakan diri pada hal-hal yang ber sifat ghoib.

III.      Pemeriksaan fisik
1.      Keadaan umum
Yang perlu dikaji kesadaran, TTV, sesak nafas dan batuk, suara tambahan (whezing, ronchi)
2.      Dada
-          Inspeksi     : Pada klien asma terlihat pergerakan otot bantu pernafasan, pernafasan cuping hidung.
-          Palpasi       : Meliputi pergerakan dada kanan + kiri simetris atau tidak, ada atau tidaknya nyeri tekan.
-          Perkusi       :  Klien asma suara ketok sonor antara dada kanan dan kiri.
-          Auskultasi    :           Terdapat suara tambahan, berupa whezing ronchi.
3.      Abdomen
-          Inspeksi     : Pada klien terlihat otot bantu pernafasan perut
-          Palpasi       : Ada tidaknya nyeri klien pembesaran hati atau limfe
-          Perkusi       :  Pada penyakit ini peristaltik usus tidak ada gangguan.
-          Auskultasi    :           Meliputi ada tidaknya kembung, suara pekak atau redup

IV.      Diagnosa keperawatan
1.      Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan terbatasnya aliran udara, kelelahan otot pernafasan dan produksi mukus yang berlebihan.
2.      Ketidak efektifan dan produksi mukkus yang meningkat.
3.      Kecemasan berhubungan dengan sesak nafas.
4.      Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang paparan pathogen, rendahnya pertahanan tubuh.
Intervensi
Dx I        : Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan terbatasnya aliran udara, kelelahan otot pernafasan dan produksi mukus yang berlebihan.
Tujuan    :  Klien dapat bernafas dengan normal
KH         : Produksi mukus yang menurun
Rencana tindakan
1)      Mengkaji pola nafas, rata-rata, irama dan kedalaman ekspansi paru.
R / Untuk mengetahui pola pernafasan klien.
2)      Observasi TTV
R/  Untuk mengetahui perkembangan klien.
3)      Ajarkan teknik untuk membantu dalam mempertahankan posisi tubuh yang tepat selama terjadi dispnea.
R/  Untuk memberikan rasa nyaman klien dalam istirahat
4)      Mengkaji kualitas dan kuantitas sputum
R/  Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas sputum
5)      Melakukan kolaborasi dengan tim medis
R/  Agar tepat dalam melaksanakan peran independen perawat

Dx II      : Ketidak efektifan dan produksi mukkus yang meningkat.
Tujuan    :  Pembersihan jalan nafas klien dapat normal
KH         : Batuk klien dapat berkurang
Intervensi :
1)      Gunakan nebulizer untuk pengeluaran sekret
R / Memudahkan dalam melakukan pengeluaran sekret
2)      Ajarkan metode batuk efektif
R/  Sekret dapat keluar dengan mudah
3)      Beri posisi semi fowler pada klien
R/  Agar memudahkan / memberi rasa nyaman pada klien agar tidak sesak.
4)      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi bronkodilator
R/  Untuk melebarkan saluran pernafasan
Dx III     : Cemas berhubungan dengan sesak nafas.
Tujuan    :  Klien dapat mengelola kecemasan
KH         : Klien tidak merasakan cemas lagi
Intervensi :
1)      Ajarkan pada klien tentang teknik relaxaxi
R / Untuk mengurangi kecemasan pada klien.
2)      Beri penjelasan pada klien tentang hal-hal apa saja yang dapat mengakibatkan keparahan pada penyakitnya.
R/  Agar klien mengetahui apa saja yang dapat mengakibatkan atau memperparah penyakitnya.
3)      Anjurkan klien untuk menghindari hal-hal yang dapat mengakibatkan bertambahnya sesak yang ia alami.
R/  Untuk mengurangi sesak yang dialami klien
4)      Hindarkan klien dari hal-hal yang membuat dia cemas
R/  Untuk mengurangi cemas yang dialami klien.

Dx IV     : Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang paparan pathogen, rendahnya pertahanan tubuh.
Tujuan    :  Klien dapat melakukan pencegahan terhadap penyebaran infeksi dan menunjukkan perubahan dalam perilaku kesehatan.
KH         : Klien menyatakan pemahaman dalam proses penyakit dan kebutuhan pengobatan, melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan.
Intervensi :
1)      Jelaskan pada klien tentang penyebaran infeksi, bersin, droplet selama batuk.
R / Pemahaman dalam proses penyakit akan membantu klien untuk mencegah penyebaran infeksi.
2)      Instruksikan klien batuk dan meludah dengan benar (tampung dalam sputum pot dan beri desinfektan)
R/  Perubahan perilaku perlu untuk mencegah penyebaran penyakit.
3)      Monitor temperatur sesuai dengan indikasi.
R/  Reaksi febris adalah indikator berlanjut infeksi
4)      Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian dan alasan pengobatan yang lama.
R/  Meningkatkan kerja sama dalam program pengobatan dan mencegah obat sesuai perbaikan kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer. Dkk (1999)., Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aesculapius FKUI.

Marlyn E. Doenges, (2000)., Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.

Prof. Dr. H. Slamet Suyono, SPPD, KE dkk (2001), Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, Gaya Baru.






































LEMBAR PENGESAHAN


Kasus ini kami ambil dari ruang Paviliun Sofa Rumah Sakit Siti Khodijah Surabaya, pada saat mengikuti praktek keperawatan Akademi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya mulai tanggal 05 Januari 2004 sampai dengan 18 Januari 2004


Mahasiswa praktek,



MOCH. WINDI
Nim : 200138


Mengetahui,
Kepala ruang Paviliun Sofa
Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang

Pembimbing ruang Paviliun Sofa
Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang

___________________
___________________
Nip.
Nip.


Pembimbing Pendidikan
Akper Unmuh Surabaya





Nip